Langsung ke konten utama

Postingan

APE

Namanya Ape ("pe" pada pelangi). Seorang bocah lelaki yang tingginya sedahiku. Waktu itu matahari tengah tertawa. Cuaca yang panas, membuat hari terasa bergulir lambat. Orang-orang di pasar mulai membungkusi sisa jualan. Ibu penjual kopi mulai mencuci gelas-gelas kaca. Penjual ayam tepung mulai menggorengi potongan ayam. Bapak-bapak petugas kebersihan mulai menyapu. Pun, Mamang galon mulai bisa mengantarkan galon-galon pesanan lewat pasar yang mulai lengang.  Kala itu Ape berjalan. Langkahnya tetap sama panjang dan cepatnya, baik di tempat teduh maupun tempat panas. Tangan kanannya memegang selembar uang -dua ribuan-. Sementara tangan kirinya menggaruki segala yang gatal, kepala, lengan, hingga betis yang penuh borok. Matanya berputar kesana-kemari, sementara kakinya tetap membawanya melangkah lurus.Ape mau membeli es jeruk yang dijual dalam plastik bungkusan. Ia hapal betul kalau setelah bertemu penjual gorengan yang bertopi, ia harus berbelok ke arah kanan. Di ujun...

Jangan Siksa

I am not the owner of this photo. I took it from google. Thanks for reading. Undu terenyuh menatap badan anak yang terbaring di hadapannya. Berapa banyak luka yang dilalui anak itu sebelum sampai kesini? Lebam, bengkak, sayatan, lepuh, semua bentuk luka itu kontras dengan kulitnya yang putih. Anak itu meringis saat Undu membasuh badannya dengan air hangat. Namun, rasa letih tampaknya tengah menguasainya, karena matanya tetap saja tertutup. Badannya yang ringkih membuat Undu seperti membersihkan selapis tipis kulit yang siap robek kapan saja.  Dikatakan, Tuhan telah memperhitungkan segalanya. Bahkan sehelai rambut pun tak akan jatuh tanpa sepengetahuan-Nya. Semua manusia sudah ditentukan jalannya. Tinggal bagaimana cara mereka melangkah ke rengkuhan-Nya. Ya, Undu tahu itu. Semasa kecil dulu, guru mengajinya di surau selalu berkata demikian. "Allah tidak pernah pilih kasih. Semua sudah dibagi dengan adil. Manusia hanya perlu bersyukur." Masih ingat betul ia ba...

TERPISAH

Punggungnya sedikit melengkung, bertopang di batang pohon. Rambutnya menari, bermain dengan angin beraroma vanila. “Kau tahu ...,saat aku dewasa nanti ...,” suara rendahnya meluruhkan keheningan di antara kami. Mulai merajut rencana, impian dan ambisinya. “Dan nanti kau akan menjadi ...,” lanjutnya seraya memandangku. Mengisahkan impiannya tentangku. Selalu begitu. Sebenarnya apa yang dia harapkan dariku? Aku tahu, kami sangat dekat. Namun kami juga tak akan pernah bersinggungan layaknya garis sejajar yang berjalan berdampingan namun tidak untuk disatukan. “Wusshh ...” Angin mengibarkan ujung hijabku. Sekaligus menggemerincingkan rantai kalung salibnya. Lihat, alampun sepaham denganku.

Wanita yang Mirip Denganku

Tiga tahun berlalu. Dan aku masih sama seperti yang dulu. Menjadi orang yang selalu tersenyum tiap melihat status di facebookmu.  Kamu tahu? Masih lekat betul di kepala ini. Bagaimana rinai gerimis yang mendera bumi, bagaimana angin datang menghembus-hembus seragam kita. Sambil menggosok bawah hidungmu, kamu bilang, "Perempuan itu mirip denganmu," jarimu menunjuk gadis di koridor sebelah barat. Aku melengos, "Ah, aku tidak setinggi dia." "Makanya aku bilang kalau kalian mirip, sangat mirip," katanya sambil terkekeh. Dan beberapa minggu kemudian, kalian - kau dan wanita yang mirip denganku itu - berjalan dengan tangan saling berpautan. Saat itu juga, aku merasa hatiku bagaikan sebidang tanah yang diamuk hujan badai dan angin topan. Kamu memilih wanita yang mirip denganku. Mirip. Mirip. Denganku. Tiga tahun berlalu. Aku masih sama seperti yang lalu. Tersenyum tiap menemukan fotomu muncul di beranda. Tersenyum tiap membaca statusmu....

LATE "HAPPY BIRTHDAY" 2

WHAT SHOULD I DO? 7 April. Jam dua siang waktu Jepang. Suhu musim semi di Jepang benar-benar bersahabat bagi orang Indonesia. Bunga-bunga sakura yang bermekaran, memanjakan mata para pelancong. Waktu yang tepat untuk berjalan-jalan! “Hei! Jangan menarik perhatian orang dengan ekspresimu yang seperti itu!” Rio mendelik pada pria bersweater cokelat yang berjalan di sampingnya. Sementara itu, orang dimaksud hanya terkikik kecil. Ia memasukkan kotak beludru biru ke dalam ranselnya. “Maaf. Maaf. Tapi apa wajahku jadi seaneh itu?” Rio memperbaiki kacamatanya yang sedikit turun. “Ekspresimu itu seperti kamu menggantungkan hidupmu pada kotak itu. Kamu memandangi kotak itu tanpa berkedip semenjak kita keluar dari toko. Beruntung kamu tidak menabrak tiang listrik,” jawab Rio. “Yeah, you know what’s going on my head.” “Eww...” Rio mengibas-ngibaskan tangannya. “Stop it. Pervert man!” “Apa? Apa yang aku lakukan?” “Ah, sudahlah,” Rio mengibas-ngibaskan tangannya...

LATE "HAPPY BIRTHDAY"

Telat ya, Ka? Telat banget malahan. :" Maaf ya, saya sengaja kok. *eh* May I be someone special for you as the latest person? :3 Karena jarak, ini yang bisa saya kasih. I write it happily. Selama ini saya ngasih kamu naskah karena kamu minta. But now, lemme' give you my script as your birhday present. Semoga nggak mengecewakan. Happy reading, darl~

DESTINEE

“Hei, sekarang jam berapa?” “Setengah enam. Mau pulang?” “Tidak. Gambarku masih belum selesai.” “Oh ya, bukannya besok kamu ada kuis kalkulus?” “Hih. Shut your mouth and mind your own business, Efraim. Jangan ganggu aku!” “Oke.” “By the way, skripsimu bagaimana?” “Apa? Aku tidak bisa mendengar suaramu.” “Dih!” Ruina memutar bola matanya ketika melihat headset ipod miliknya sudah ada di kuping Efraim. Sementara ipod yang duduk manis dipangkuan Ruina dalam keadaan mati, tak ada lagu yang terputar. Namun pria itu mengangguk-anggukkan kepala seperti kepala ayam saat berjalan, mengikuti irama delusi di pikirannya. “Stupid, boy,” gerutu Ruina dalam hati, lalu kembali melanjutkan gambarnya.