Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label dailywriting

Kenapa Menikah Muda

Dingin. Gerimis. Gelap. Jalanan yang berlubang. Perut yang kelaparan. Pintu kulkas terbuka seperti pintu masuk minimarket di malam minggu. Sebentar-sebentar lampunya menyala sebelum mati untuk sebentar saja. Benda kotak setinggi satu meter itu jadi kotak pendingin tak berguna. Selain karena listrik yang padam semenjak tiga jam yang lalu, juga karena ia hanya berisi sirup markisa dan terasi udang merk tiga abjad. Ah, oh ada juga bumbu nasi goreng. Aku menggeliat-geliat di kasur, di bawah selimut merah muda. Mengeluh, merutuk kebodohan sendiri karena selalu lupa beli makan malam sepulang dari kantor. Kan kalau sudah malam gelap gulita begini, aku hanya jadi perempuan pengecut dengan segala kenegatifan di pikirannya. Terlampau takut dan malas untuk keluar mencari makan. Lebih memilih untuk menikmati lapar daripada menyalakan motor dan mencari warung yang buka. Bekerja jauh dari pusat kota memang memaksaku untuk hidup disiplin. Warung-warung makan yang tak pernah buka lebih dari j...

KALEMBO ADE

Perjalanan menuju Nggembe tak pernah semulus ini. Angkutan umum yang biasanya memaksa merajai jalan dengan mesin rongsokannya tak muncul satupun. Jalanan rusak sepanjang tambak garam juga baru saja diperbaiki. Kambing-kambing duduk dengan tenang di tepi jalan, tak ada yang menyebrang sembarangan sebagaimana hakikat mereka. Agustus hampir selesai, dan musim masih kemarau. Cucian yang kujemur sore tadi hanya perlu diangin-anginkan sebentar sebelum akhirnya berjubel di keranjang setrikaan, -yang selalu penuh-. Kegiatan mencuci selalu menyenangkan di musim panas. Namun tidak dengan menyetrika, terlalu panas dan terlalu lama. Tentu saja setelah aku berhasil mencari-cari alasan untuk menumpuk pakaian kusut di dalam lemari. " Sebune, Ma ?" Seorang Ibu dengan kantung mata yang mencapai pipinya tersenyum dan berkata, " Dua riwu, anae ." Tampaknya si Ibu sudah kehabisan tempat teduh di cabang Donggo. Ia dan lapak kecilnya bertengger di jalan yang berdebu dan bermandik...

SEMUT-SEMUT HITAM DI DINDING DAPUR

Setiap manusia saling terhubung, suka maupun tidak suka. Setiap manusia akan memiliki arti keberadaannya, penting maupun tipis bak udara. Setiap manusia selalu ... Barisan semut di dinding dapur semakin rapat. Memilin rantai hitam tipis pada tembok berwarna biru. Secara teratur datang lalu pergi setelah membawa secuil kue tart yang teronggok begitu saja di wastafel. Icing  kue menodai dinding tembok, permukaan meja dan mengenai lantai. Hingga akhirnya, memunculkan perkumpulan baru dari semut-semut hitam yang bersarang entah di bagian mana rumah ini. Vibrato rapuh Taylor Swift menggema di ruang utama. Kata demi kata dari 'White Horse' memenuhi udara di ruang yang tak seberapa besarnya itu. Memantul di nakas yang berdebu. Memantul di sofa yang berantakan. Memantul di karpet yang sudah usang. Memantul juga pada permukaan foto-foto yang menguning di dinding-dinding. Beberapa semut hitam tampaknya tersesat dan malah menjelajah permukaan lantai keramik. Warna mereka begit...