Langsung ke konten utama

Embun Pagi

Ku nantikan tarian kecil hujan
Bersama senyummu

.I
Jika surat tak hanya sekedar selembar kertas
maka suratku itu akan terus bernyanyi untukmu
Tentang sebuah kehilangan dimusim panas

.II
Rintik hujan yang meluncur dari awan
Terus mengalir ke parit, ke sungai dan ke laut
Terkadang meresap ke dalam batuan
Seperti darahku untuk lagumu

.III
Aku merindu pada awan hitam itu
Aku rindu gelegar guntur
Seperti kerinduanku pada dirimu di genangan air hujan
Bersama hujan ka datang
Membawa lebih dari 1800 detik senyuman
Bercerita tentang Swedia, India, Monako

.IV
Mentari,
Ya, kau diuapkan mentari
Embun pagiku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MONTASE

Penulis                 : Windry Ramadhina Penerbit              : GagasMedia Jumlah hal.         : viii + 360 hlm Tahun terbit      : 2012 Stars                      : 4/5 Aku berharap tak pernah bertemu dengamu. Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku. Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu. Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu. Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku, Tapi... Kalau aku benar-benar tak pernah bertemu dengamu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa. Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh me...

KALO JATUH GAK PERAWAN !!!

Di suatu sore menjelang senja, aku lagi pemanasan sebelum lari. Mulai dari gerak-gerakin kepala, tangan, meregangkan pinggang dan terakhir angkat kaki. Tak lupa sesekali ikut bernyanyi bersama Broery Marantika  ~~~ di suatu senja dimusim yanggg lalu~~~  *ada yang tau ini tahun berapa?*... "HUP!" tiba-tiba keseimbangan kaki kiriku oleng. "KALAU JATUH GAK PERAWAN!!" Suara tiga puluh satu orang itu tiba-tiba terngiang di kepalaku. Cepat-cepat aku mengembalikan keseimbangan agar kaki kananku tak menjejak tanah apalagi sampai membuat jatuh.

Second Beginning

Helai ilalang menawarkan cinta, kawan.  Tapi kita tersesat di langit biru, kawan. Entah, kapan kita bisa kembali... . Memetik cinta di padang itu, kawan. Seperti yang kekasih biasa lakukan. Angin terus bernyanyi, kawan. Mengantarkan cinta pada setiap hati.