Langsung ke konten utama

Postingan

My Dandelion Boy

Originall idea from  @Detariesandy MY DANDELION BOY Serpihan-serpihan kecil pengantar harapan itu terbang. Patuh pada lajur angin. Entah kemana mereka akan membawa doa-doaku pergi. Mungkin ke malaikat? Lalu malaikat akan membawanya ke Tuhan. Selanjutnya Tuhan akan mengabulkan doa itu dengan mengirimmu ke sisiku. Kenapa kamu? Karena namamulah yang kutulis di doa-doa itu. Doa-doa dandelion. Kamu memang bukan orang pertama yang membuatku berpikir akan cinta. Kamu juga bukan orang pertama yang sering melipir-lipir kertas dan menyelipkannya di buku tulisku. Maksudku, surat cinta. Kamu juga bukan orang pertama yang membuat mataku selalu waspada, karena ingin mengikutimu. Tapi kamu orang pertama yang mengajarkanku pada harapan. Lebih tepatnya harapan-harapan dandelion. Selayaknya batang dandelion yang lurus dan tinggi, kamu adalah orang mandiri dan tidak menyukai popularitas. Tapi kamu bisa menahan rasa sepi itu, dan mengalahkannya dengan menghasilkan p...

Bukan Rasa yang Salah

Genre : Romance, Friendship Word : 4.094 Summary : Kita selalu baik. Tapi, semua kebaikan itu membuatku jenuh. Authorized : Originnal idea from @detariesandy .  Dari Nami. “Putus? Kenapa?” sebuah lonjakan kecil di hati Nami membuatnya menutup novel barunya. “Mmm... bagaimana, ya. Aku sudah tidak mencintai dia lagi.” Nami menatap gadis di depannya dengan matanya yang membulat –serius-. Sementara, yang ditatap –Angela- malah asyik melilit jarinya dengan rambutnya. “Seingatku, baru satu bulan yang lalu kamu bilang kamu mencintainya. Aku masih ingat betul kalau sore itu kamu menceritakan bagaimana bahagianya hatimu melihat Tobi. Seingatku juga, kalian tak pernah bertengkar. Kenapa kamu tiba-tiba ingin memutuskan dia?” Angela menatap balik Nami, ia menghembuskan nafas perlahan. “Nami, aku juga menanyakan hal itu pada diriku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Rasa cinta itu sudah tidak ada,” ucapnya sambil membolak-balik asal novel Nami. “Rasa tidak pernah ...

Second Beginning

Helai ilalang menawarkan cinta, kawan.  Tapi kita tersesat di langit biru, kawan. Entah, kapan kita bisa kembali... . Memetik cinta di padang itu, kawan. Seperti yang kekasih biasa lakukan. Angin terus bernyanyi, kawan. Mengantarkan cinta pada setiap hati.

Last Kiss

Saat pengorbananmu tangis bagiku Bahagiakah kau? Saat kesucian hatimu berat bagiku Tersenyum kau Kotorkah tangan ku ini? Membunuhmu dengan cinta kita berdua Indahkah kisah ini? Menyiksamu dengan sebuah harapan yang menyakitkan Mengapa cintamu untuk vampir tak berperasaan Satu malaikat mau membunuh hatiku Saat ku kecup terakhir dirimu Dan belati itu seakan merona Tak ingin menghapus senyummu

Isi Hati

Tersayat cinta di pinggir hati Tertoreh rindu di tengah hati Terukir nama di palung hati Hati-hati-hati Cinta-rindu-nama Ada kamu, selamanya

Pelayaran Jingga

Kau layarkan perahu berkayu sayang Bermain, menjahit renda si kanvas biru Terus berlayar, menuju ketiadaan... Kau tunjukkan aku langit senja Terus berwarna jingga Pancarkan temaram lembut cinta alam... Ombak berpagut dengan angin Mengecup mutiara-mutiara bersih Alam bercinta Kau bilang, aku lebih luas dari samudra Hingga tak pernah bosan kau selami Dan mengharap langit tetap jingga Pancarkanmu cahaya cinta

Dan Ketika Kau Terdiam

Dan ketika kau terdiam Kau bentangkan serpihan terkecil mozaik Mengapung di udara Harus ku susun, sendirian Dan ketika kau terdiam Nafasmu hampa, matamu hampa, hatimu hampa Dimana aku padamu? Harus kucari, sendirian Rumput & semak memudar Terdiam nanar melihat kita Diam tanpa perasaan Dan ketika kau terdiam Aku merona melihat senja Begitua dekatnya ia dengan mentari Sementara aku sendirian Aku menjadi orang yang terpancang di bumi ini Mencari-cari lorong menuju jiwamu Dan ketika kau terdiam Aku hilang