Langsung ke konten utama

Postingan

Isi Hati

Tersayat cinta di pinggir hati Tertoreh rindu di tengah hati Terukir nama di palung hati Hati-hati-hati Cinta-rindu-nama Ada kamu, selamanya

Pelayaran Jingga

Kau layarkan perahu berkayu sayang Bermain, menjahit renda si kanvas biru Terus berlayar, menuju ketiadaan... Kau tunjukkan aku langit senja Terus berwarna jingga Pancarkan temaram lembut cinta alam... Ombak berpagut dengan angin Mengecup mutiara-mutiara bersih Alam bercinta Kau bilang, aku lebih luas dari samudra Hingga tak pernah bosan kau selami Dan mengharap langit tetap jingga Pancarkanmu cahaya cinta

Dan Ketika Kau Terdiam

Dan ketika kau terdiam Kau bentangkan serpihan terkecil mozaik Mengapung di udara Harus ku susun, sendirian Dan ketika kau terdiam Nafasmu hampa, matamu hampa, hatimu hampa Dimana aku padamu? Harus kucari, sendirian Rumput & semak memudar Terdiam nanar melihat kita Diam tanpa perasaan Dan ketika kau terdiam Aku merona melihat senja Begitua dekatnya ia dengan mentari Sementara aku sendirian Aku menjadi orang yang terpancang di bumi ini Mencari-cari lorong menuju jiwamu Dan ketika kau terdiam Aku hilang

Tuhan Ada di Penjara

Derak, gemertak tiang-tiang tinggi Besi-besi yang menjulang kokoh berdiri bersisi-sisi Tuhan ada di sana Bersenandung dalam batasan bui Bersama KitabNya yang baru Penjara itu kelam dan suram Tak ada penghapus bekasnya Tuhan, manusia tinggalkan di sana Bersama jerat konstitusi, tuntutan pidana Tuhan berikan udara tak berbatas Tuhan kucurkan air adil sama rata Tapi manusia temukan Ia di sudut penjara Bersandar di dinginnya tembok-tembok bata Temukan Tuhan di penjara Bersama kristal bening di sudut mata Mereka minta pengurangan hukuman 7  Mei 2012

Cinta Maunya Kamu

Terus menguap. Nadiku mendaoatjan detaknya. Terus menguap. Paruku temukan nafasnya. Terus menguap. Hatiku temukan cintanya. Cintaku tergenang di kubang kecil itu. Tak mengalir ke hati yang lain, diam di kamu. Cintaku temukan muaranya di kamu. Tak terhambat. Tapi cintaku tertambat. Mengikatku dengan kamu, sangat kuat. Tak akan oernah berkarat. Cinta sudah menunjuk kamu. Kamu harus tetap hidup untukku. Karena cintaku egois dan cintaku maunya kamu.

Hari Ini Seperti Inilah

Dinginnya terkutuk Menusuk-nusuk sampai tulang rusuk Dan aku merutuk, terus merutuk Di tengah Indonesia yang terus terbatuk Terkekang korupsi, penjarahan, prostitusi dan berbagai sifat-sifat buruk Ahh... Dinginnya benar-benar Kali ini takkan lekang oleh pidato pejabat yang berkoar-koar Ingin rasanya kubungkus diri dengan bendera lebar Dingin, dingin, dingin Politik Indonesia juga dingin Rasa iba remaja juga mulai mendingin 18 nilai karakter bangsa beranjak runtuh dan luruh, lebih parah dari kemarin Hari ini seperti inilah Satu hari lagi Indonesia menghadapi banyak masalah Udara dingin di negeri ini membekukan darah Semoga pemuda-pemuda itu belum lelah Hari ini seperti inilah, Dinginnya sudah membuat aku lelah Negeri ini, kehilangan matahari merah Masalah bertambah parah dan parah Andai saja perasaan cinta bangsa bisa membuat tubuhku tegap lagi Bukannya membuatku terus merintih karena ngilu dan nyeri Terkepit, melihat dan memilih antara zaman dan sumpah pemuda...

24 Lukisan Cinta : Hannah *4

Tiga puluh lima menit kemudian, galeri lukis itu dikepung oleh polisi. Aira terduduk lemas di kasurnya ketika mendengar suara sirine mobil polisi. Sementara itu alunan instrument Kenny G di ruan Putera masih terdengar. Nampaknya Putera benar-benar menikmati kegiatannya dan Aira mensyukuri hal itu. Kilasan-kilasan kenangan masa lalu berlarian di benak Aira. Tentang Putera dan dirinya. Kenangan-kenangan itu saling berkejar-kejaran di pikirannya. Aira mendengar pintu depan yang didobrak. Sebentar lagi polisi itu pasti sudah sampai di kamarnya. Tak beberapa lama kemudian, seorang polisi pria membuka pintu kamarnya. Aira hanya menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. Ia sudah pasrah, ia tak peduli apakah ia dan Putera akan dipenjara atau tidak. Ia hanya ingin Putera, kakaknya bisa kembali menjadi manusia normal. Ia sudah tak tahan lagi memiliki Kakak seorang psikopat. “Pak Polisi. Terimakasih sudah datang,” ucap Aira sambil tersenyum paksa. Kemudian jatuh pingsan karena tekanan psikis yang s...